Novel Mata di Tanah Melus Karya Okky Madasari: Mengenal Lebih Dekat Bangsa Melus dan Budayanya di Wilayah Nusa Tenggara Timur

Sinopsis Novel Mata di Tanah MelusSampul novel Mata di Tanah Melus karya Okky Madasari, menampilkan petualangan Matara dan budaya bangsa Melus di Nusa Tenggara Timur.

     Seperti anak berusia dua belas tahun pada umumnya, Matara tumbuh ditemani dongeng-dongeng penuh keajaiban yang selalu disenandungkan sang nenek setiap liburan tiba. Cerita-cerita tersebut hidup dalam kehidupan Mata dan membuatnya percaya bahwa tidak ada cerita yang tak nyata, termasuk cerita tentang perjalanan liburannya ke Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Perjalanan yang semula hanya ia bayangkan sebagai waktu indah bersama sang ibu, menjelma petualangan bak dongeng hidup. Di tanah yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, Matara dipertemukan dengan kisah-kisah purba yang berdenyut di pegunungan Lakaan, yaitu rumah bagi bangsa Melus, para penghuni gunung yang hampir lenyap dari ingatan dunia. Apa yang awalnya tampak sebagai liburan sederhana, perlahan menyingkap rahasia, menantang keberanian, sekaligus menghidupkan kembali dongeng-dongeng masa kecilnya yang membuktikan pada Matara, bahwa tidak ada cerita yang benar-benar tak nyata.

Identitas Buku

  • Judul: Mata di Tanah Melus
  • Penulis: Okky Madasari
  • Tema: Petualangan, Budaya, Mitos, Identitas
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Jumlah Halaman: 248 halaman
  • Tahun Terbit: 2018
  • ISBN: 9786020387152

— From My Perspective —

What I learned From This Book?

  • Dari buku ini, aku belajar bahwa di Indonesia, tepatnya di Nusa Tenggara Timur, tersimpan keindahan alam yang luar biasa, hamparan padang rumput hijau yang dikenal dengan Fulan Fehan yang membentang luas di Kabupaten Belu, Ibukota Atambua. Keindahannya tak kalah memesona dibanding padang-padang luas di benua lain yang sering kita lihat di layar kaca.
  • Lebih dari sekadar memperkenalkan panorama alam, buku ini juga menanamkan pesan penting bahwa sebagai wisatawan, kita punya tanggung jawab untuk selalu menghormati norma adat dan tradisi di tempat yang kita singgahi. Setiap daerah punya kearifan lokal yang patut dijaga, bukan sekadar dijadikan objek wisata.
  • Novel ini menambah wawasanku tentang salah satu cerita turun-temurun masyarakat Gunung Lakaan, kisah tentang bangsa Melus, para pewaris kesaktian dan penjaga kekayaan Gunung Lakaan. Meski kini disebut telah musnah, kisahnya tetap hidup, bersemayam di ingatan orang-orang yang masih percaya bahwa mungkin bangsa Melus hanya bersembunyi, menjauh dari hiruk pikuk dunia modern.
  • Lewat buku ini juga, aku jadi tahu tentang upacara adat yang masih dilaksanakan di Gunung Lakaan, tepatnya di Hol Hara Ranu Hitu atau benteng tujuh lapis yang dipercaya sudah ada jauh sebelum zaman Portugis datang. Konon, benteng ini dibangun oleh para leluhur dengan bantuan roh-roh halus penjaga gunung.

Posting Komentar

0 Komentar