Sinopsis Novel Pulang
Setelah meletusnya peristiwa Gerakan 30 September Tahun 1965, Dimas Suryo: seorang wartawan Kantor Berita Nusantara yang tengah menghadiri Konferensi Wartawan Asia-Afrika di Peking, dikejutkan dengan kabar bahwa paspornya dicabut. Kini, Ia adalah seorang eksil politik yang dicap sebagai pengkhianat negara. Segala yang berkaitan dengan Partai Komunisme Indonesia, Lekra, dan yang dianggap dekat dengan PKI dan penganut paham 'kiri' tengah diburu dan dibabat habis-habisan untuk menguak siapa dalang dari peristiwa yang merenggut nyawa enam perwira tinggi angkatan darat hingga enam korban lainnya. Tidak berhenti sampai disitu, keluarga Dimas yang berada di Kota Solo: Aji, Ibu Dimas juga dimintai keterangan terkait hal yang sama secara berulang-ulang tentang kegiatan dan pekerjaan Dimas.
Novel ini menjadi saksi para eksil politik G30S PKI yang berusaha menghidupkan cerita tentang nasib para WNI ketika ditolak kembali ke tanah airnya dengan alasan tuduhan yang tidak berdasar: Pendukung PKI dan simpatisan PKI. Tidak hanya menyoroti cerita hidup eksil politik, novel ini mendalami dampak yang dirasakan para keluarga dan sanak saudara dari adanya stereotip tersebut, bahkan bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut terjadi. Tidak hanya peristiwa G30S PKI, novel ini juga memiliki latar belakang kejadian seperti kerusuhan mahasiswa Mei 1968 di Paris dan demonstrasi besar-besaran mahasiswa pada Mei 1998 di Indonesia.
Identitas Buku
- Judul: Pulang
- Penulis: Leila Chudori
- Tema: Sejarah, Perjuangan
- Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
- Jumlah Halaman: 458 halaman
- Tahun Terbit: 2012
- ISBN 13: 978-602-424-275-6
— From My Perspective —
Refleksi dan Pelajaran dari Novel Pulang
Membaca Pulang memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana stereotip “pengkhianat negara” menimpa eksil politik G30S PKI dan keluarganya. Berikut beberapa hal yang aku pelajari melalui buku ini:
What I learned From This Book?
- Buku ini membuka pandanganku terhadap para eksil politik G30S PKI yang berada di luar negeri, bahwa sebaiknya kita lebih terbebas dari ajaran yang telah ditanamkan sejak kita berada di SD hingga SMA terkait peristiwa G30S PKI yang mengakibatkan stereotip "pengkhianat negara" begitu melekat tidak hanya bagi para eksil politik, tetapi juga keluarga dan keturunannya yang bahkan tidak mengetahui kesalahan apa yang mereka perbuat sehingga seringkali harus mengganti nama belakang (menghilangkan nama keluarga) agar dapat terhindar dari tekanan sosial yang bersumber dari pemerintah dan masyarakat itu sendiri.
- Bahwa sejak terjadinya peristiwa G30S PKI tersebut, banyak warga sipil yang dianggap berkaitan dengan PKI atau organisasi sejenisnya bahkan keluarganya 'dimintai keterangan' dalam bentuk ancaman dan kekerasan hingga merenggut nyawa. Adapula yang dijadikan sebagai tahanan dan diasingkan di pulau Buru, Maluku.
- Bahwa para eks-tapol pada kala itu ditandai dengan kode ET yang terletak pada KTPnya sehingga mengakibatkan kesulitan mendapatkan pekerjaan dan diterima kembali dalam masyarakat.
- Adanya istilah-istilah yang dibentuk oleh pemerintah orde baru pada tahun 1980-an, yaitu Bersih Diri dan Bersih Lingkungan. Istilah pertama ditujukan terhadap seseorang yang dianggap terlibat PKI dan organisasi sejenisnya dan istilah kedua dikenakan terhadap para anggota keluarga dari seseorang yang dicap sebagai penganut komunis.
- Bahwa pada Mei 1998, para keturunan Tionghoa menjadi yang terdampak ketika terjadi kerusuhan besar-besaran pada zaman orde baru yang kala itu Indonesia dilanda ketidakstabilan ekonomi dan politik yaitu harga BBM yang melonjak naik drastis hingga pemerintahan Indonesia yang terus menerus dipimpin oleh satu orang yang sama dalam kurun waktu yang lama-soeharto, hingga ketika Ia memasukkan putrinya sebagai anggota kabinet. Peristiwa tersebut menjadi saksi nyata dari diskriminasi sosial dan rasisme yang terjadi di Indonesia terhadap masyarakat keturunan Tionghoa, bahkan dalam jangka waktu yang lama.

0 Komentar